Cara Memulai Usaha Budiaya Jamur Skala Rumah Tangga

Cara Memulai Usaha Budiaya Jamur Skala Rumah Tangga

Memulai usaha budidaya jamur merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Karena hal ini merupakan titik awal Anda melangkah dan menyongsong keberhasilan. Banyak orang yang mempunyai keinginan, namun takut untuk melangkah karena takut gagal dan mengalami kerugian. Supaya tidak gagal, selain memiliki keberanian untuk memulai. Anda juga harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan terencana. Persiapan yang baik dan terencana akan membantu Anda memiliki keyakinan lebih untuk meraih keberhasilan dalam budidaya jamur konsumsi. Berikut ini hal-hal yang harus Anda ketahui sebelum melangkah lebih jauh dalam memulai usaha budidaya jamur untuk skala rumah tangga. 

Baca juga: Jenis jamur konsumsi yang populer dan bernilai ekonomis

MENENTUKAN LOKASI USAHA

Lokasi ideal adalah lokasi yang hampir mirip dengan kondisi habitat jamur di lingkungan aslinya. Semakin mendekati lingkungan aslinya tentu pertumbuhan jamur akan semakin baik. Ada beberapa pertimbangan untuk menentukan lokasi yang ideal, yaitu sebagai berikut. 

  • Suhu udara. Berdasarkan kemampuan menyesuaikan pada suhu, jenis jamur terbagi menjadi tiga golongan, yaitu psikrofilik, mesofilik, dan termofilik. Golongan psikofilik merupakan jamur yang tumbuh pada kondisi suhu 0-30° C dengan suhu optimum sekitar 15° C. Jamur mesofilik dapat tumbuh pada kisaran kondisi suhu antara 25°-37° C dengan suhu optimum sekitar 30°C. Sementara jamur termofilik merupakan jamur yang tumbuh pada kisaran suhu tinggi, yaitu kisaran 40°-75°C dengan suhu optimum 55°C.
  • Kelembapan udara. Jamur akan tumbuh dengan baik pada kondisi lingkungan dengan udara yang lembap. Jamur sangat tergantung pada adanya air baik berupa uap air maupun air. Karena 80-90% tubuh jamur mengandung air. 
  • Senyawa beracun juga mempengaruhi pertumbuhan jamur. Terutama senyawa logam berat seperti tembaga (Cu), raksa (Hg), perak (Ag), timbel plumbum (Pb), seng (Zn), dan litium (LI) berpotensi mempengaruhi kegiatan sel dan menghambat kegiatan enzim. 
  • Radiasi seperti contoh cahaya gelombang pendek (sinar ultraviolet/UV, sinar Infra merah, dan sinar gamma) mempunyai daya rusak yang tinggi bagi sel-sel jamur dan dapat menyebabkan kematian bagi sel-sel jamur, perubahan genetik, dan akan menghambat pertumbuhan jamur. Tapi, ada beberapa jenis spesies jamur yang menyukai habitat yang cukup cahaya, tetapi tetap dengan kondisi kelembapan yang cukup tinggi.

1. Bila Lokasi Sudah Ada

Bila telah memiliki lokasi untuk melakukan usaha budidaya jamur sebaiknya sesuaikan jenis jamur yang akan dibudidayakan dengan kondisi lahan yang telah dipilih. Dengan memilih jenis jamur yang sesuai dengan kondisi lokasi di tempat Anda, Anda tidak perlu susah-susah lagi memanipulasi kondisi lingkungan untuk budidaya jamur. Sehingga bisa menghemat pengeluaran modal dan biaya untuk usaha budidaya. 

Bila lokasi budidaya tidak memungkinkan, Anda bisa memanipulasi tempat budidaya jamur tersebut sehingga sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan oleh jamur. Sebagai contoh kumbung adalah dengan membuat rumah kumbung, memainkan suhu dan kelembapan didalam kumbung dengan memberikan semprotan air, serta mengatur udara yang masuk ke dalam kumbung. 

2. Memilih Lokasi Usaha

Untuk memilih lokasi usaha budidaya jamur ini, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan, di antaranya adalah sebagai berikut. 

  • Idealnya, lokasi usaha memiliki kondisi suhu dan kelembapan yang sesuai dengan kebutuhan jamur yang akan dibudidayakan. 
  • Pilih lokasi yang bebas dari pencemaran udara, misalnya tidak berdekatan dengan pabrik pembuangan sampah akhir atau lalu lintas jalan raya. 
  • Pilih lokasi budidaya yang dekat dengan sumber mata air. Khusus di wilayah dataran rendah, usaha budidaya jamur membutuhkan air yang cukup banyak untuk menjaga kelembapan. 
  • Mudah untuk mendapatkan sarana produksi seperti media tanam dan sumber bibit unggul.
  • Mudah dijangkau atau tidak sulit transportasinya.
  • Bila membutuhkan tenaga kerja, mudah mendapatkannya. 

MEMBANGUN RUMAH PRODUKSI

Ada beberapa hal yang perlu disiapkan ketika Anda hendak ingin membuka usaha budidaya jamur, seperti membuat rumah produksi atau biasa disebut rumah kumbung. Namun bagi pemula yang tidak memiliki cukup lahan untuk membangun rumah kumbung bisa memanfaatkan salah satu ruang di dalam rumah yang memang sengaja dialihkan sebagai rumah produksi.

Rumah kumbung untuk budidaya jamur dapat dibuat secara permanen atau semi permanen. Untuk usaha budidaya jamur secara besar-besaran, sebaiknya rumah kumbung harus terbuat dari tembok permanen, baik menggunakan bahan batu bata maupun batako. Sementara itu, untuk skala pembudidaya menengah ke bawah, rumah kumbung biasanya dibuat dari bahan seadanya yang cukup sederhana dan ekonomis, misalnya konstruksinya menggunakan bahan bambu dan anyaman kulit bambu (gedeg) yang dikombinasi dengan lembaran plastik. 

1. Tidak Harus Besar

Rumah kumbung sebaiknya tidak harus dibuat dalam ukuran yang besar dan memakan biaya mahal dan banyak, tetapi dapat dibuat secara minimalis dan ekonomis. Namun, dalam pembangunan rumah kumbung untuk budidaya jamur yang terpenting harus menyesuaikan beberapa hal berikut. 

  • Skala usaha yang akan dikerjakan. bila Anda adalah pengusaha skala rumahan sebaiknya membuat kumbung yang berukuran kecil saja. 
  • Kemampuan modal usaha. Bila dana yang Anda miliki masih terbatas, sebaiknya membuat kumbung yang sederhana, atau dapat memanfaatkan bahan-bahan sisa atau bahan bekas seadanya. Bahan bekas tersebut tentunya yang tidak akan berbahaya bagi kehidupan jamur. 
  • Bila memiliki lahan luas, tetapi ingin memulai usaha dari skala yang kecil, sebaiknya ketika mendirikan rumah kumbung,tata letaknya sudah dipersiapkan dan diperkirakan terlebih dahulu untuk pengembangannya. Dengan demikian, bila usaha budidaya jamur sudah berkembang, tidak harus membongkar rumah kumbung yang lama.

Ukuran rumah kumbung tergantung pada ketersediaan lahan yang Anda miliki dan jumlah jamur yang akan dibudidayakan. Sebagai contoh, seorang pengusaha jamur membutuhkan rumah kumbung berukuran panjang 4 m, lebar 6 m, dan tinggi 3-6 m untuk 1.000 baglog yang diproduksinya. Umumnya, rumah jamur memiliki tinggi 5-6 m dari tanah sampai ke ujung atap. Tujuannya, agar sirkulasi udara lancar dan kelembapan di dalam kumbung stabil dan tetap terjaga. 

Selain itu, ukuran rumah kumbung tergantung dari jumlah baglog yang akan diletakkan dalam kumbung. Semakin banyak baglog yang di gunakan tentu akan membutuhkan kumbung yang lebih besar. Namun ukuran rumah kumbung juga jangan terlalu besar karena membutuhkan bentangan kuda-kuda atap yang cukup panjang sehingga akan menambah biaya produksi. 

Untuk efisiensi tempat, rumah kumbung dapat dibuat dengan sistem rak bersusun untuk tempat meletakkan baglog. Dengan demikian, jumlah baglog yang diletakkan di dalam rumah kumbung bisa dioptimalkan dan berjumlah lebih banyak. Jarak antar baris di setiap rak idealnya adalah sekitar 80-90 cm. Setiap rak yang telah ada berisi 15 baglog yang disusun vertikal dan 20 baglog disusun horisontal. Di setiap baris ke-10 (barisan horisontal) diberi penyekat misalnya dari batang bambu. Dengan kondisi tersebut, kita sudah mempunyai kapasitas 300 baglog di setiap raknya. 

2. Bentuk Rumah Produksi

Bentuk kumbung biasanya seperti rumah persegi panjang dengan atap berbentuk segitiga, atap miring sebelah, atau setengah lingkaran. Rumah kumbung harus dilengkapi dengan satu pintu dan beberapa jendela. Jika lokasi budidaya jamur terletak di dataran rendah, bagian luar kumbung sebaiknya dilapisi plastik untuk menjaga penguapan yang berlebihan di dalam kumbung. Untuk menjaga kelembapan udara tetap stabil di dalam kumbung, lantai kumbung perlu dilapisi sekam padi atau diplester semen. 

MENDAPATKAN BIBIT JAMUR

Bibit jamur termasuk kebutuhan vital dalam budidaya jamur karena bibit jamur merupakan cikal bakal pertumbuhan jamur yang baik dan berkualitas. Bibit jamur dapat diperoleh dengan cara membiakkan sendiri atau dapat pula dengan membeli bibit murni untuk kemudian dikembangkan sendiri. 

1. Mengenal Bibit Jamur

Bibit jamur adalah benih atau media keturunan dari suatu spesies jamur yang dapat digunakan untuk membiakkan jenis jamur dalam spesies yang sama. Untuk mendapatkan bibit jamur, dibutuhkan beberapa rangkaian proses, yakni mulai dari menyiapkan media biakan, pengambilan eksplan, dan inokulasi eksplan hingga dihasilkan bibit jamur.

Awal dari budidaya jamur membutuhkan biakan murni yang bebas dari kontaminsasi dan memiliki sifat-sifat genetik yang baik yakni dalam hal kuantitas maupun kualitas. Keberhasilan seorang pengusaha budidaya jamur sangat tergantung pada cara pemeliharaan dan penyimpanan biakan murni miselium jamur, sehingga jamur tetap dapat memproduksi tubuh buah dengan produktivitas yang tinggi dan kualitas yang baik. 

2. Mutu Bibit Jamur

Untuk menghasilkan mutu jamur dengan kualitas yang baik tentu sangat tergantung dari mutu bibit yang dipilih. Bibit jamur yang baik dan cara memperlakukannya sehingga tidak mengalami kerusakan adalah sebagai berikut. 

  • kuslitas bibit jamur yang dikatakan baik bila miseliumnya tumbuh merata ke seluruh media tumbuh. Hindari bibit dengan miselium terlalu padat, terlalu jarang atau tipis. 
  • Sebaiknya jangan memilih bibit yang tidak menunjukkan adanya pertumbuhan miselium pada beberapa bagian media tumbuhnya. Karena hal tersebut sudah menunjukkan ciri ciri bahwa bibit tersebut sudah terkontaminasi (tercemar mikroorganisme lain). 
  • Bibit jamur memiliki masa kadaluarsa, yakni bila berumur lebih dari empat minggu dari proses inokulasi (tanam), Bibit yang kadaluarsa sudah sangat mundur aktivitas pertumbuhannya dan tidak akan memberikan hasil produksi yang baik, bahkan mungkin tidak berproduksi sama sekali. Dengan demikian, harus di ketahui lama simpan bibit sebelum digunakan, agar jamur yang dihasilkan sesuai dengan kualitas dan harapan kita . Untuk itu, beli bibit yang telah diketahui waktu inokulasinya. 
  • Bibit jamur yang baik untuk dibudidayakan adalah yang memiliki nilai BER (biological effciency ratio) tinggi. BER adalah persentase perbandingan antara jumlah berat jamur yang dihasilkan dengan berat substrat/media tanam jamur. Sebagai contoh bila berat jamur yang dihasilkan 200 g dan berat media tanam 1.000 g maka nilai BER adalah 20%.
  • Bila bibit jamur belum akan digunakan, sebaiknya bibit harus disimpan pada tempat yang tidak terganggu misalnya dalam ruangan yang dingin. Ruang tersebut harus terhindar dari cahaya matahari. Namun, bibit jamur yang akan segera ditanam sebaiknya tidak disimpan dalam refrigerator lemari es atau diinkubasi pada suhu rendah. 
  • Jika tutup botol atau kantong plastik bibit sudah dibuka, maka seluruh bibit yang sudah dibuka harus digunakan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kontaminsasi. Dengan demikian, jangan gunakan bibit dari sisa yang disimpan kembali. 

Komentar

Baca Artikel Lainnya

18 Game Android yang Menghasilkan Uang Asli Langsung ke Rekening Tanpa Modal

Pertanyaan Tentang Segmentasi Pasar yang Belum Anda Tahu

Contoh Pembukuan Warung Sembako Dan Cara Membuatnya

Contoh Kasus Pemasaran dan Solusinya

5 Jenis Kebutuhan Pelanggan yang harus diketahui dan dipatuhi oleh Perusahaan

Apa yang dimaksud dengan 5A dalam Skema Usaha Jasa Pariwisata?

9 Contoh Copywriting Produk Kecantikan yang Menarik Perhatian dan Bisa Meyakinkan Calon Pembeli

Contoh Teks Mempromosikan Produk Seperti Pakaian, Kecantikan maupun Elektronik

Warung Sembako Modal 5 Juta, Begini Rincian Modal Usaha dan Cara Memulainya

Toko Kelontong Modal 20 Juta, Begini Rincian Modal Usaha dan Cara Memulainya