Cara Memulai dan Menjalankan Bisnis Kecil

Wirausahawan harus membuat keputusan yang tepat saat memulai bisnisnya. Mereka harus memiliki visi yang jelas tentang bagaimana menjalankan bisnisnya agar berhasil. Mereka juga harus memutuskan cara untuk masuk ke dalam bisnis, yaitu apakah dengan cara membeli perusahaan yang sudah ada atau memulai dari nol. Wirausahawan juga seharusnya memiliki rencana bisnis yang baik dan komprehensif. Membuat rencana bisnis harus dimulai dengan pemahaman mengenai kompetensi khusus yang dimiliki perusahaan.

Kompetensi khusus merupakan aspek bisnis yang memperlihatkan kinerja perusahaan yang lebih baik dibanding pesaing. Kompetensi khusus untuk bisnis kecil dapat dikategorikan ke dalam tiga bidang, yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi ceruk baru dalam pasar yang mapan, kemampuan untuk mengidentifikasi pasar baru, dan kemampuan untuk bergerak cepat dalam rangka meraih keuntungan dari peluang yang ada. 

  • Mengidentifikasi ceruk baru dalam pasar yang mapan. Pasar yang mapan (established market) adalah pasar tempat berbagai perusahaan bersaing berdasarkan kriteria bisnis yang jelas. Sedangkan ceruk (niche) adalah segmen pasar yang masih belum tergarap. Secara umum, usaha kecil memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menemukan ceruk dibanding perusahaan yang lebih besar. Perusahaan besar biasanya memiliki banyak sumber daya untuk menggarap praktik-praktik bisnis lama dan mapan, sehingga kurang peka dalam menemukan peluang baru. Wirausahawan dapat melihat peluang baru ini dan bergerak cepat untuk menggarapnya. 
  • Mengidentifikasi pasar baru. Wirausahawan yang sukses juga memiliki kemampuan dalam menemukan pasar yang benar-benar baru. Penemuan ini bisa terjadi melalui dua cara. Pertama, wirausahawan dapat mentransfer atau memperkenalkan produk atau jasa yang sudah mapan di suatu wilayah atau di suatu pasar geografis ke pasar geografis lainnya. Ke dua, wirausahawan dapat menciptakan industri baru. Wirausahawan biasanya lebih mampu menemukan pasar baru dibanding organisasi yang lebih besar dan matang, karena wirausahawan tidak terhambat oleh bagaimana menjalankan bisnis melalui cara "yang semestinya". Dengan kata lain, wirausahawan dapat menggunakan kemampuannya untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui pemikiran yang kreatif dan tindakan yang inovatif demi terciptanya peluang.
  • Keunggulan penggerak pertama. Keunggulan penggerak pertama adalah keunggulan yang dicapai perusahaan karena mampu menggarap peluang sebelum perusahaan lain melakukannya. Terkadang, perusahaan besar menemukan ceruk pasar di dalam pasar yang sudah mapan atau menemukan pasar baru yang waktunya hampir bersamaan dengan penemuan yang dilakukan oleh perusahaan kecil. Hal ini karena perusahaan besar kurang cepat dibandingkan perusahaan kecil dalam memanfaatkan peluang yang ada. Ada beberapa alasan yang membuat perusahaan besar kurang cepat dibandingkan perusahaan kecil dalam memanfaatkan peluang yang ada. Pertama, banyak organisasi besar yang membuat keputusan yang lambat karena banyaknya struktur hierarki yang harus dilalui sebelum suatu tindakan dapat diimplementasikan. Ke dua, organisasi besar terkadang mempertaruhkan aset yang besar ketika ingin menggarap peluang baru. Sebagai contoh, setiap kali perusahaan Boeing memutuskan untuk merancang pesawat jet komersial model baru, keputusannya ini bisa saja membuat bangkrut perusahaan jika ternyata gagal. Skala risiko ini menjadikan organisasi besar menjadi lebih berhati-hati. Sebaliknya, nilai aset yang dipertaruhkan organisasi kecil relatif kecil. Manajer mungkin bersedia mempertaruhkan perusahaan pada saat nilai perusahaan relatif kecil, namun mereka mungkin akan lebih enggan untuk mempertaruhkan perusahaan ketika nilai perusahaan relatif besar.

Baca juga: 25 Ide Bisnis Ibu Rumah Tangga yang Menjanjikan dengan Modal Kecil

Setelah wirausahawan mengetahui potensi kompetensi khusus, langkah berikutnya adalah merumuskan rencana bisnis yang menggambarkan strategi bisnis wirausahawan atas bisnis barunya dan memperlihatkan bagaimana rencana tersebut dijalankan. Selama tahap persiapan tersebut, wirausahawan harus mengembangkan gagasan bisnis secara tertulis dan menegaskan pemikirannya mengenai cara meluncurkan bisnis tersebut sebelum menginvestasikan uang dan waktu.

Rencana bisnis adalah dokumen dimana wirausahawan merangkum strategi bisnisnya atas usaha baru yang diusulkannya dan bagaimana strategi tersebut akan diterapkan. Rencana bisnis terutama harus menjawab tiga pertanyaan berikut, yaitu apa tujuan dan sasaran wirausahawan, strategi apa yang digunakan untuk mencapainya, dan bagaimana strategi tersebut dilaksanakan.

Meskipun elemen utama dari rencana bisnis adalah perkiraan penjualan, namun rencana ini harus didasarkan pada kemungkinan keberhasilan bisnis yang mengacu pada data dan riset yang kuat. Wirausahawan tidak bisa meramalkan pendapatan dari penjualan tanpa terlebih dahulu meneliti pasar. Wirausahawan harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai kondisi pasar saat ini, kekuatan dan kelemahan pesaing, serta cara bersaing dengan perusahaan lain. Tanpa perkiraan penjualan, wirausahawan tidak dapat mengukur kebutuhan luas pabrik, toko, atau kantor, dan juga tidak dapat memutuskan seberapa banyak persediaan yang harus dimuat dan berapa banyak karyawan yang harus direkrut.

Disamping perkiraan penjualan, rencana bisnis juga memuat perencanaan keuangan. Perencanaan ini biasanya mencakup anggaran kas, laporan laba rugi, neraca, dan grafik titik impas. Anggaran kas menunjukkan seberapa banyak dana yang dibutuhkan sebelum membuka bisnis dan berapa yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis sebelum akhirnya menghasilkan laba.

Setelah wirausahawan membuat peramalan penjualan dan menyelesaikan perencanaan keuangan, ia kemudian harus memutuskan apakah akan membeli perusahaan yang sudah ada atau memulai dari nol. Banyak pakar yang menyarankan pendekatan pertama karena memang peluangnya lebih baik. Perusahaan yang sudah ada telah membuktikan kemampuannya dalam menarik konsumen dan menghasilkan laba. Perusahaan yang sudah ada juga biasanya telah membangun hubungan dengan pemberi pinjaman, pemasok, pelanggan, dan pemangku kepentingan lain. Sebagai contoh, Ray Kroc membeli McDonald's sebagai perusahaan yang sudah ada, lalu "menyuntikkannya dengan visi kewirausahaan dan pemahaman bisnisnya, dan melahirkan perusahaan raksasa multinasional. Demikian juga dengan Southwest Airlines dan Starbucks yang dimulai dari bisnis kecil dengan operasional yang terseok seok, lalu ketika diambil alih oleh wirausahawan akhirnya dapat berkembang menjadi sebuah bisnis yang besar. Selama satu dasawarsa terakhir, sekitar 35% dari seluruh bisnis yang dirintis dibeli dari pihak lain.

Meskipun berisiko, sebagian orang memilih untuk memulai bisnis dari nol untuk mendapatkan kepuasan dari penciptaan gagasan bisnis baru dan membuatnya menjadi besar. Di samping itu, ada juga alasan praktis untuk memulai bisnis dari nol, dimana bisnis baru biasanya tidak mengalami dampak buruk akibat kesalahan yang dilakukan oleh pemilik bisnis sebelumnya, dan pemilik bisnis baru bebas untuk memilih pemberi pinjaman, perlengkapan, persediaan, lokasi, pemasok, dan karyawan. Dari seluruh bisnis yang muncul selama satu dekade terakhir, sekitar 65 persennya dimulai dari nol. Sebagai contoh, Dell Computer, Walmart, Microsoft, dan Twitter merupakan bisnis yang dimulai dari nol oleh seorang wirausahawan dan saat ini berhasil meraup sukses.

Namun sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, risiko memulai bisnis dari nol lebih besar dibanding membeli perusahaan yang sudah ada. Wirausahawan yang memulai bisnis dari nol hanya bisa membuat proyeksi mengenal prospek bisnisnya. Keberhasilan atau kegagalan dalam memulai bisnis dari nol sangat bergantung pada kemampuan wirausahawan dalam mengidentifikasi peluang. Untuk merintisnya, wirausahawan harus mempelajari kondisi pasar dan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, yaitu siapa dan di mana pelanggan saya berada, berapa yang mereka bersedia bayarkan atas produk saya, berapa unit produk yang bisa dijual, siapa saja pesaing saya, dan mengapa pelanggan membeli produk saya dibanding produk pesaing.

Meskipun pilihan untuk memulai suatu bisnis merupakan hal yang penting, namun hal tersebut akan menjadi sia-sia apabila tidak bisa memperoleh dana untuk membiayai ide-ide cemerlang tersebut. Sumber pembiayaan yang paling umum adalah berasal dari keluarga dan teman, tabungan pribadi, lembaga pemberi pinjaman, investor, dan badan. pemerintah. Namun, lembaga pemberi pinjaman kemungkinan akan lebih menyukai pembiayaan untuk membeli perusahaan yang sudah ada karena risikonya sudah dipahami. Wirausahawan yang memulai bisnis baru mungkin harus mengandalkan sumber dana pribadi. Sumber dana pribadi, bukan pinjaman, merupakan sumber dana yang paling penting. Sumber dana pribadi termasuk juga yang berasal dari keluarga dan teman, mencapai sekitar dua pertiga dari seluruh dana yang diinvestasikan dalam bisnis kecil baru, dan setengahnya digunakan untuk membeli bisnis lama. Memperoleh dana dari bank, investor, dan pemerintah mengharuskan upaya ekstra karena pihak-pihak tersebut biasanya akan mengkaji terlebih dahulu rencana bisnis yang diusulkan wirausahawan.

Komentar

Baca Artikel Lainnya

Apa yang dimaksud dengan 5A dalam Skema Usaha Jasa Pariwisata?

Pertanyaan Tentang Segmentasi Pasar yang Belum Anda Tahu

Contoh Kasus Pemasaran dan Solusinya

Contoh Pembukuan Warung Sembako Dan Cara Membuatnya

5 Jenis Kebutuhan Pelanggan yang harus diketahui dan dipatuhi oleh Perusahaan

7 Tips Mencari Inspirasi Nama Merek Supaya Cepat Ngetop

Konsep A3 dari Pelayanan Prima! Berikut Penjelasan Singkatnya

9 Contoh Copywriting Produk Kecantikan yang Menarik Perhatian dan Bisa Meyakinkan Calon Pembeli

Contoh Teks Sales Menawarkan Produk

20 Peluang Usaha Modal 50 Juta Rupiah Beserta Rinciannya