Cara Bersaing dengan Kompetitor Bisnis

Cara Bersaing dengan Kompetitor Bisnis

Sebagai pebisnis, Anda tidak bisa mengeluhkan pesaing produk Anda yang selalu bertambah setiap harinya. 

Itu terjadi pada bisnis apa pun dan tidak bisa dihindari.

Jadi, jika Anda bertanya apa yang harus dilakukan dengan itu, jawabnya terima saja, jadikan terus bertambahnya jumlah pesaing sebagai cambuk untuk membuat produk yang benar-benar sesuai kebutuhan dan keinginan pasar. 

Untuk memenuhi itu, Anda harus menerapkan strategi yang tepat.

Lalu, bagaimana membuat strategi yang tepat untuk bersaing dengan kompetitor bisnis?

Berikut ini tips bersaing dalam bisnis yang positif dan sehat. 

Baca juga: Cara membuat pelanggan agar tetap loyal

Strategi Menghadapi Persaingan Bisnis yang Terus Bertambah

1. Membuat Produk yang Sesuai dengan Pasar

Satu strategi menghadapi persaingan bisnis adalah dengan membuat produk yang lebih baik. Itu memang benar. 

Sayangnya, kebanyakan pebisnis menerjemahkan produk yang lebih baik dari pesaing adalah hanya dengan memperbaiki kualitas produk tersebut. 

Padahal bukan hanya itu. Produk yang lebih baik dan sesuai pasar adalah juga tentang kesesuaian harga dengan kemampuan pasar untuk membeli, kecepatan pengerjaan, kemampuan berpromosi, sampai distribusi yang merata. 

Jika hanya mengandalkan produk yang lebih baik tapi harganya tidak terjangkau, sering terlambat, dan distribusinya hanya pada tempat-tempat tertentu, bagaimana omzet Anda bisa meningkat? 

Bagaimana bisa merebut konsumen dari pesaing?

Jika sudah demikian, daripada memikirkan pesaing yang terus bertambah padahal itu tidak bisa dihindari, kenapa tidak memikirkan strategi untuk selalu lebih unggul dengan mereka? 

Oleh karena itu, jauh lebih penting daripada bertanya kenapa selalu ada pesaing baru setiap tahunnya.

Bisnis apa pun tidak akan bisa menghindar dari persaingan. 

Oleh karena itu, pasti terjadi. Masalahnya ada pebisnis yang optimis dan yang pesimis. 

Pebisnis optimis akan menganggap persaingan sebagai cambuk untuk meningkatkan kinerja perusahaannya, sementara yang pesimis akan menganggapnya sebagai awal kejatuhan bisnisnya.

Lihat, dari awal saja pola pikirnya sudah beda. Tentu saja strateginya juga akan beda. 

Pebisnis optimis selalu memiliki hasil yang lebih baik daripada pebisnis yang pesimis.

2. Cara Bersaing Harga

Beberapa pebisnis menghadapi ketatnya persaingan dengan cara perang harga. 

Mereka selalu berusaha membuat agar produk mereka menjadi lebih murah dari produk pesaingnya.

Apakah itu tepat? Belum tentu.

Perang harga bisa menjadi salah satu perangkap persaingan yang berbahaya. 

Biasanya, perangkap ini dimulai dari perusahaan perusahaan yang sudah sangat mapan dan memiliki finansial kuat. 

Mereka sengaja membuat produk dengan harga yang sangat murah dan berharap bisa membuat pesaing-pesaing kecil mereka ikut menurunkan harga secara drastis sehingga malah membuat perusahaan perusahaan kecil itu meraih keuntungan yang sangat sedikit dan tidak bisa bertahan lama.

Yang banyak tidak diketahui adalah, karena mereka adalah perusahaan mapan secara finansial, jadi mereka bisa produksi secara masal. 

Oleh karena produksinya masal, biaya produksinya jadi sangat murah sekali sehingga harga jualnya juga bisa ditekan. 

Sementara bagi perusahaan kecil, tentu produksinya juga dalam skala kecil sehingga biayanya lebih mahal. 

Bayangkan, dari harga pokok produksi saja berbeda. Bagaimana mau ikut-ikutan perang harga terhadap perusahaan yang lebih mapan?

Bagi pebisnis yang sudah berpengalaman, mereka sangat paham bahwa harga adalah satu senjata sangat kuat untuk bersaing. 

Mereka tidak akan terpancing dengan ajakan saling memberi harga yang lebih murah. 

Mereka lebih memilih tidak apa-apa harganya sedikit lebih mahal, selama kualitasnya lebih baik. 

Lalu mereka akan menggunakan senjata lain dengan kualitas produk, promosi yang lebih baik, sampai tempat display. 

Jika ada produk yang lebih baik dengan promosi yang bagus, konsumen pasti tahu dan tetap membeli produk itu meski harganya sedikit lebih mahal.

Jadi, jangan sampai terpancing untuk ikut masuk dalam hal merugikan seperti perang harga ini karena keuntungan Anda akan sangat jauh berkurang dan belum tentu bisa menutupi biaya operasional Anda dalam jangka panjang. 

Kenapa tidak membuat produk yang lebih bagus meski harga sedikit lebih mahal?

Seorang pebisnis baru boleh melakukan perang harga jika dia tidak memiliki senjata lain untuk menghadapi persaingan. 

Misalnya produk yang biasa-biasa saja, biaya promosi tidak punya, dan distribusi pun tidak merata.

3. Bisa Mengukur Kemampuan Bisnis

Sering kali, karena tidak bisa mengukur kemampuan sendiri, beberapa pebisnis nekat bersaing secara terang-terangan dengan optimisme tinggi. 

Pada akhirnya, hanya karena mengandalkan optimisme dan modal besar tanpa strategi yang matang, bisnis mereka justru malah merugi.

Sebelum memutuskan untuk bersaing dengan terang terangan, Anda harus mengukur kekuatan tim bisnis Anda dulu. 

Apakah tim pemasaran lebih bagus dari pesaing, termasuk kerja sama, konsep, dan pelaksanaannya? 

Apakah modalnya cukup untuk bersaing dalam jangka panjang? 

Apakah kualitasnya bisa mengimbangi pesaing? Apakah harganya juga bisa bersaing?

Semua itu harus Anda pertimbangkan.

Bagaimana jika semuanya sudah telanjur terjadi?

Kalau memang sudah telanjur terjadi, hentikan persaingan itu sebelum menghancurkan bisnis Anda sendiri. 

Jangan salah, bukan berarti menyarankan Anda untuk mundur atau tidak pernah lagi bersaing, tetapi jika memang sudah terbukti merugi dan akan terus seperti itu, sebagai pebisnis Anda harus menghindari kerugian yang jauh lebih banyak. 

Untuk itu, Anda harus berhenti dengan keputusan itu dan mulai memfokuskan modal dan tenaga Anda untuk sesuatu yang lebih menguntungkan. 

Lagipula, bukankah bisnis adalah tentang mencari keuntungan?

Hal lain yang bisa Anda lakukan adalah memanfaatkan situasi tersebut dengan bekerja sama dengan pesaing.

Dalam strategi perang, jika Anda tidak bisa mengalahkan musuh Anda, bekerja samalah dengan mereka. 

Nah, Anda bisa membuat proposal kepada mereka untuk pengajuan kerja sama. 

Dalam hal pemasaran mungkin, atau berbagi produksi. 

Biasanya, jika produk mereka laris, mereka membutuhkan outsource untuk mempercepat produksi demi memenuhi kebutuhan pelanggan.

Kenapa kita tidak mengambil kesempatan itu. Tidak bersaing, tapi kita mendapatkan keuntungan, kenapa tidak?

Komentar

Baca Artikel Lainnya

Contoh Pembukuan Warung Sembako Dan Cara Membuatnya

Pertanyaan Tentang Segmentasi Pasar yang Belum Anda Tahu

Warung Sembako Modal 5 Juta, Begini Rincian Modal Usaha dan Cara Memulainya

Cara Menentukan Harga Jual Barang Sembako

9 Contoh Copywriting Produk Kecantikan yang Menarik Perhatian dan Bisa Meyakinkan Calon Pembeli

Konsep A3 dari Pelayanan Prima! Berikut Penjelasan Singkatnya

Contoh Kasus Pemasaran dan Solusinya

Apa yang dimaksud dengan 5A dalam Skema Usaha Jasa Pariwisata?

Mengelola Modal Usaha Playground Indoor Dengan Lebih Hemat

3 Alasan Mengapa Usaha Budidaya Ikan Hias Menjadi Salah Satu Peluang Usaha Saat Ini