Cara Budidaya Ikan Nila dari Pembenihan, Pembesaran, dan Analisa Usahanya

budidaya ikan nila

Ikan nila cukup disukai masyarakat dan banyak peminatnya, karena ikan ini memiliki tekstur daging yang kesat dan rasa yang lezat. Ikan nila menjadi salah satu pilihan alternatif masyarakat dengan harganya yang sangat terjangkau. Kali ini findira akan menjelaskan secara lengkap cara budidaya ikan nila dari pembenihan hingga pembesaran beserta analisa usaha. Adapun langkah-langkah dalam budidaya ikan nila adalah pengenalan jenis, kebiasaan hidup di alam seperti kebiasaan makan dan berkembang biak, memilih indukan, pemijahan di kolam seperti mempersiapkan konstruksi kolam dan proses pemijahan, penetasan telus dan perawatan benih, perawatan induk, pendedaran dan pembesaran. 

Cara budidaya ikan nila

Pengenalan jenis

Nila (Tilapia Nilatica) mempunyai badan pipih keatas dan memanjang. Memiliki garis vertikal pada bagian badan sebanyak 9-11 buah, sedangkan garis-garis pada sirip ekor berjumlah 6-12 buah dan berwarna merah . Pada bagian sirip punggung juga terdapat garis garis miring. Bentuk badan relatif pebih tebal dibandingkan dengan ikan mujair.

Adapun ragan jenis ikan nila antara lain, nila hitam, Nila Gift, Nila gesit, nila best, dan nila larasati.

Kebiasaan hidup di alam

Ikan nila merupakan ikan sungai atau danau yang sangat cocok dan dapat dipelihara diperairan yang tenang seperti kolam, mauoun reservoir. Tingkat toleransi terhadap kadar garam (salinitas) sangat tinggi. Ikan nila juga biasa ditemui di sekitar perairan payau.

Kebiasaan Makan

Pakan alami ikan nila adalah plankton atau tumbuhan air yang lunak, dan cacing pun salah termasuk salah satu pakan favorit ikan ini. Fakta menunjukkan bahwa ikan yang berasal dari Afrika ini memiliki kebiasaan makan yang berbeda-beda memyesuaikan dengan tingkat usia. Benih-benih ikan nila ternyata lebih suka mengonsumsi zooplankton seperti rotatoria , cladocera, dan copepoda. Sejalan dengan waktu pertumbuhan badannya, ikan nila mulai meninggalkan pakan zooplankton, lalu mengganti dengan fitoplankton. Hal yang paling unik dari kebiasaan makannya adalah kemampuan ikan nila dewasa untuk mengumpulkan plankton dari perairan dengan bantuan lendir mucus dalam mulutnya. Plankton dalam mulutnya akan bergumpal atau membentuk partikel sehingga tidak mudah keluar kembali melalui jaring insang.

Kebiasaan berkembang biak

Di alam, kebiasaan ikan nila mulai memijah sejak berumur 4 bulan dengan ukuran panjang badan sekitar 9,5 cm dan berat sekitar 15 g. Pemijahan bisa terjadi sepanjang tahun tanpa adanya musim tertentu dengan interval kematangan telur sekitar 2 bulan. Interval pemijahan bisa lebih pendek dengan pemberian pakan yang bergizi tinggi. Ikan jantan memiliki naluri untuk membuat sarang berupa lubang didasar perairan yang lunak. Hal itu dilakukan sebelum terjadi pemijahan. Sedangkan induk betina memiliki naluri untuk mengerami telur dalam mulutnya (mouth breeder). Namun kebiasaan ini sering mengganggu aktivitas makannya, sehingga pertumbuhan indukan betina lebih lambat daripada indukan jantan. Bagi induk betina yang telah matang kelamin biasanya dapat menghasilkan telur kurang lebih 250-1.100 butir. Telur telur yang sudah dibuahi indukan jantan akan menetas dalam jangka waktu 3-5 hari didalam mulut induk betina. Selama 10-13 hari, larva akan diasuh oleh induk betina.

Memilih indukan

Untuk dijadikan indukan, bobotnya ikan nila harus sudah mencapai lebih dari 100g/ekor agar produksi dapat maksimal. Demi keberhasilan pembenihan, ikan nila yang digunakan haruslah ikan yang asli. Saat ini sudah banyak strain ikan nila yang mempunyai beragam keunggulan. Mulai dari jenis nila #1, nila BEST, nila Gesit, nila nirwana, dan nila merah. 

Untuk membedakan jenis kelamin jantan dan betina pada ikan nila sangatlah mudah, terutama dari sifat kelamin sekunder. Dagu induk jantan biasanya berwarna kemerahan atau kehitaman, sedangkan dagu induk betina terlihat berwarna putih. Sirip dada pada ikan jantan berwarna coklat kemerahan. Sedangkan sirip induk betina berwarna kehitaman. Bila masih kurang yakin dengan tanda tanda tersebut, dapat dilihat bentuk alat kelaminnya. Alat kelamin pada induk jantan ikan nila berbentuk meruncing, sedangkan pada induk betina berbentuk bulan sabit. Pada ikan jantan, lubang tempat keluarnya urine dan sperma menjadi satu kesatuan, sedangkan lubang anus terpisah. Oleh karena itu, ikan jantan hanya mempunyai dua lubang, yaitu anus dan urogenital (urine dan sperma). Sementara itu betina mempunyai tiga buah lubang, yaitu anus, genital, dan lubang urine.

gambar induk jantan dan betina ikan nila

Induk betina yang matang gonad mempunyai ciri: 
  • warna merah pada lubang genital
  • perut buncit
  • bila diurut dari bagian atas ke bawah arah lubang genital akan keluar telur
Induk jantan yang matang gonad mempunyai ciri: 
  • alat genital berwarna merah
  • jika pangkal perut diurut ke arag genital akan keluar cairan berwarna putih yang bernama sperma
  • panjang alat genital mencapai pangkal sirip perut

Pemijahan di kolam

Dengan melihat kebiasaan hidup ikan nila di alam, rasanya memang tidak lah terlalu sulit untuk memijah ikan nila dikolam. Namun, untuk mencapai keberhasilan dalam pemijahan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. 

Konstruksi kolam

Konstruksi kolam pemijahan nila sebenarnya tidak rumit. Bahkan, dengan kolam tanpa sirkulasi yang memadai, ikan ini dapat melakukan pemijahan atau kawin. Kolam sebaiknya memiliki pintu pemasukan dan pintu pembuangan air untuk memudahkan penangkapan induk setelah proses memijah. Luas kolam pemijahan ikan nila biasanya sekitar 50-400 m2 atau disesuaikan dengan luas lahan yang ada dan modal yang tersedia. Tinggi pematang yang optimal adalah 1 meter dengan dasar kolam sedikit berlumpur. Pada pintu pemasukan air, dipasang saringan untuk mejaga masuknya ikan lain.

Persiapan kolam

Persiapan kolam yang dibutuhkan meliputi pengeringan dasar kolam selama tiga hari. Lumpur yang mengendap di kolam, terutama yang menutup kemalir dinaikkan dan diperbaiki. Pematang kolam diperbaiki untuk menghindari kebocoran pada kolam. Lubang-lubang disekitar kolam perlu dicangkul, lalu ditimbun dengan tanah baru. Pengapuran juga harus dilakukan untuk memperbaiki pH tanah dan dapat mematikan bibit penyakit/hama ikan. Kolam pemijahan nila diberikan pupuk untuk penyediaan pakan alami ikan bagi benih yang baru menetas. Pemupukan dilakukan dengan cara menggantungkan karung berisi pupuk kadang. Kurang lebih 3-5 hari biasanya akan tumbuh plankton di sekitar karung pupuk. Setelah itu, masukkan air kedalam kolam tersebut. Pintu pemasukan air dapat dilengkapi dengan saringan kawat kasa atau kasa nyamuk dari bahan plastik.

Pemijahan

Setelah permukaan air di kolam mencapai ketinggian 50-70 cm, induk induk ikan nila mulai dimasukkan satu per satu kedalam kolam pemijahan. Memasukkan indukan ikan biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari. Untuk perbandingan induk jantan dan betina yang dipijah biasanya 1:3-5. Bila induk jantan yang dimasukkan kekolam sebanyak 10 ekor maka harus disedikan induk betina sebanyak 30-50 ekor. Hal ini juga bertujuan untuk menghindari persaingan induk jantan dalam memijah induk betina. 

Setelah penyesuaian, biasanya indukan jantan akan mulai membuat sarang berupa lubang sebagai tempat memijah didasar kolam yang lunak. Setelah sarang siap, biasanya induk jantan akan segera memburu induk betina untuk dibawa keatas sarang yang telah dibuatnya. Kemudian, induk betina melepaskan telur, lalu induk jantan membuahinya dengan menyemprotkan spermanya. Setelah selesai proses memijah, induk betina mengisap telur yang telah dibuahi untuk dierami di dalam mulutnya (mouth breeder). Sementara induk betina mengerami telur, induk jantan akan meninggalkan pasangannya, lalu membangun sarang baru untuk pemijahan dengan induk betina lainnya.

Penetasan telur dan perawatan benih

Biasanya, perawatan benih ikan nila pada masa-masa kritis sampai umur 10 hari dilakukan oleh induk betina. Setelah 2-3 minggu dari awal waktu penebaran induk di dalam kolam, akan terlihat benih benih ikan nila pada permukaan air. Pada saat itu, sudah bisa dilakukan penangkapan benih dengan cara menjaringnya dipermukaan air sehingga tidak perlu dilakukan pengeringan kolam. Namun, untuk memudahkan penangkapan, dapat juga mambuang sebagian air di dalam kolam agar leluasa masuk ke dalam kolam. Penangkapan sebaiknya dilakukan pada waktu pagi hari saat benih berkumpul dipermukaan air. Bila dilakukan pada waktu siang hari, benih bisa stres karena kepanasan dan kekurangan oksigen. Penangkapan benih pada pagi hari dilakukan supaya benih tidak stres pada saat ditampung di ember atau waring. Benih sudah harus ditangkap semua dalam waktu kurang dari dua jam.

Perawatan induk

Setelah pemanenan benih ikan nila dilakukan, sebaiknya indukan nila dibiarkan tetap di dalam kolam pemijahan untuk tetap melakukan siklus pemijahan. Untuk menghasilkan benih yang berkuakitas, indukan harus tetap dirawat supaya tetap sehat dan produktif. Oleh karena itu, perlu adanya pemberian pakan tambahan dari luar untuk memenuhi kesehatan dan kondisi induk seperti semula. Pakan yang diberikan untuk induk nila bisa berupa pelet berprotein dengan kadar di atas 25%. Namun, bisa juga diberikan pakan seperti dedak, ampas tahu, sisa roti, dedaunan, dan bungkil. Pemberian pelet bisa diselingi dengan pakan tambahan tersebut sehingga biaya modal yang dikeluarkan tidak terlalu besar.

Pendedaran dan pembesaran

Benih ikan nila yang telah dipanen dari kolam pemijahan bisa didedar di kolam yang lebih luas. Untuk persiapan kolam pendedaran adalah meliputi pengeringan kolam, pengapuran, dan pemupukan. Pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk kandang maupun pupuk buatan. Pupuk kandang diberikan sebagai pupuk dasar untuk disebar di dalam kolam pendedaran sebanyak 1 kg/m2. Pupuk buatan yang digunakan harus mengandung unsur fosfor dan nitrogen, yaitu pupuk DS (Double Superphosphat) atau TS (Tripple Superphosphat), dan urea. Bila menggunakan kolam dengan luas mencapai 200 m2, pupuk yang digunakan adalah sebanyak 4 kg yang terdiri atas pupuk DS/TS 2 kg dan urea 2 kg. Pupuk buatan dapat diberikan selama masa pemeliharaan berlangsung atau setelah kolam terisi air. Pupuk buatan dimasukkan kedalam kantong kecil yang diberi lubang kecil kecil, selanjutnya diikatkan pada sebilah bambu, lalu ditancapkan didasar kolam. Kantong pupuk tersebut akan menggantung dan terendam air. Pupuk tersebut akan larut sedikit demi sedikit. Kedalaman air kolam pendedaran sebaiknya memiliki tinggi antara 50-70cm. Penambahan air hanya diberikan untuk mengganti kebocoran dan penguapan air. Air dalam kadar yang berlebihan dapat menghanyutkan unsur hara yang ada di dalam kolam hanyut. Benih nila dapat dipelihara dengan kepadatan yang lebih tinggi dibanding dengan ikan tawes, mas, dan nilem. Untuk tahapan pertama, ikan dapat ditebar di dalam kolam pemeliharaan dengan kepadatan antara 10-15 ekor/m2 hingga mencapai ukuran 6-7 cm. Setelah itu, pemeliharaan bisa dilanjutkan di kolam yang sama atau dipindahkan kekolam lainnya yang lebih besar. Bila punya lahan cukup luas, tidak ada salahnya untuk membuat kolam khusus untuk pembesaran. Akan lebih baik, kolam tersebut dapat dibuat sejak awal sehingga bisa langsung digunakan untuk pemeliharaan ikan nila dari ukuran 6-7 cm hingga mencapai ukuran konsumsi (bobot 100g).

Analisa usaha budidaya ikan nila

Peluang usaha budidaya ikan nila

Pembenihan ikan nila ( Oreocromis niloticus) termasuk mudah dilakukan. Salah satu faktornya adalah kemudahan dalam memijah dan tidak membutuhkan teknik yang sulit. Bahkan, sering terjadi pemijahan yang tidak dikehendaki (inbreeding). Adapun frekuensi pemijahan nila dalam satu tahun minimal 6 kali karena recovery goned induk betina sekitar 1-2 bulan. Seekor induk betina dapat menghasikkan telur 300-3.000 butir, tergantung bobot induk betina. Adapun pembesarannya mudah dilakukan di lokasi manapun, bahkan lahan kurang produktif sekalipun. Pengelolaannya juga relatif mudah karena dengan pemberian pakan yang cukup pertumbuhan relatif cepat. Selain itu, ikan nila tergolong ikan yang cukup tahan terhadap serangan penyakit.

Kendala budidaya ikan nila

Sering terjadi inbreeding sehingga kualitas benih pada keturunan berikutnya akan menurun.
Air kolam yang kotor dapat menghambat atau merusak pertumbuhan telur .
Perkembangan tidak terkontrol karena memijah.
Pembuatan hampang di perairan yang berarus kuat cukup berbahaya.
Sering ada pencemaran air di hampang, sehingga dapat menganggu pertumbuhan ikan.

Analisa usaha Pembenihan ikan nila di kolam 400 m2

Investasi awal
Kolam berukuran 400m2 1 unit; Rp 50.000.000.
Induk 60 jantan, 180 betina; Rp 1.800.000.
Pompa air dan instalasi; Rp 1.500.000.
Hapa 32 unit; Rp 1.600.000.
Peralatan budidaya dan panen; Rp 4.000.000.
pH ki;t Rp 300.000.
Total investasi awal (TI); Rp 59.200.000.

Biaya operasional 
penyusutan investasi 10%; Rp 5.530.000.
Pelet induk 2.590kg; Rp 23.310.000.
Pelet benih 2.880kg; Rp 25.920.000.
Tenaga kerja 2 org x 12 bulan; Rp 19.200.000.
Listrik; Rp 1.000.000.
Pupuk dan kapur; Rp 1.300.000.
Totql biaya operasional (TB); Rp 76.650.000.

Perkiraan perhitungan pendapatan dan keuntungan
Omset = 180 induk x 500 x 10 x 80% x Rp 145 = Rp 104.400.000.
Total biaya opeeasional (TB) = Rp 76.650.000.
Laba (omset-TB) = Rp 27.750.000.

R/C ratio = hasil penjualan/biaya produksi = Rp 104.400.000 / Rp 76.650.000 = 1,4.

BEP ( Break-even point)
BEP harga = biaya produksi / total produksi = Rp 76.650.000 / 720.000 kg = Rp 106,46.

BEP produksi = biaya produksi / harga produksi = Rp 76.650.000 / Rp 145.000 = 528.621 ekor.

Analisa usaha Pembesaran ikan nila di hampang 100 m2

Investasi awal 
Pembuatan hampang 10m x 10m; Rp 7.000.000.
Peralatan budidaya dan panen; Rp 700.000.
pH kit;  Rp 300.000.
Total investasi awal (TI); Rp 8.000.000.

Biaya operasional 
Penyusutan investasi 10% Rp 800.000
Pelet 4.725 kg 42.525.000
Benih 15.000 ekor 2.175.000
Obat obatan 1.500.000
Tenaga kerja 2 org x 4 bulan 6.400.000
Total biaya operasional (TB) Rp 53.400.000

Perkiraan perhitungan pendapatn dannkeuntungan
Omset = 15.000 ekor x 90% x 0,35 kg/ekor x Rp 15.000 = Rp 70.875.000
Total biaya operasional (TB) = Rp 53.400.000
Laba (omset-TB) = Rp 17.475.000

R/C ratio = hasil penjualan/biaya produksi = Rp 70.875.000 / Rp 53.400.000 = 1,3

BEP (Break-even point)
BEP harga = biaya produksi /total produksi = Rp 53.400.000 / 4.725 kg = Rp 11.301,59

BEP produksi = biaya produksi/harga produksi = Rp 53.400.000 / Rp 15.000 = 3.560 kg

Komentar

Baca Artikel Lainnya

Contoh Pembukuan Warung Sembako Dan Cara Membuatnya

18 Game Android yang Menghasilkan Uang Asli Langsung ke Rekening Tanpa Modal

Apa yang dimaksud dengan 5A dalam Skema Usaha Jasa Pariwisata?

20 Peluang Usaha Modal 50 Juta Rupiah Beserta Rinciannya

Pertanyaan Tentang Segmentasi Pasar yang Belum Anda Tahu

Warung Sembako Modal 5 Juta, Begini Rincian Modal Usaha dan Cara Memulainya

Industri Kreatif: Pengertian, Contoh, Manfaat, Konsep dan Perkembangannya

3 Keuntungan dan Kelemahan dalam Memilih Tenaga Kerja yang Tidak Terlatih

6 Jenis Usaha Di Daerah Pegunungan Yang Memiliki Untung Besar

Toko Kelontong Modal 20 Juta, Begini Rincian Modal Usaha dan Cara Memulainya