Analisa Bisnis Ikan Laut

Analisa Bisnis Ikan Laut
Bisnis ikan laut memang sangat mengiurkan dan bisa menghasilkan untung yang besar bagi pengusaha dan pembudidaya ikan laut. Ikan laut yang berpotensi menjadi bisnis yang menguntungkan pun banyak  jenisnya, contohnya ikan nila merah, kakap merah, bandeng, kakap putih, bawal bintang, kuwe, kerapubebek, kerapu sunu, kerapu lumpur, kerapu batik, kerapu macan, baronang, cobia, dan lain-lain. Kali ini findira akan membahas bagaimana anlisa bisnis ikan laut untuk mempermudah Anda menentukan biaya produksi, keuntungan, dan kelayakan usaha ikan laut yang mau Anda ambil. Gunakan analisa bisnis ikan laut ini untuk mempersiapkan usaha budidaya ikan laut supaya bisa sukses dengan mendapatkan untung yang besar dan cepat dengan tingkat kerugian yang kecil . Cukup menarik bukan? Mari kita lanjut!.

Analisa Bisnis Ikan Laut

Budi daya biota laut merupakan usaha yang cukup menguntungkan jika di kelola secara serius. Namun, usaha budi daya ini membutuhkan modal yang cukup tinggi sehingga pembudidaya yang memiliki modal kecil tampaknya agak kesulitan jika tidak dilakukan secara kelompok. Harga biota laut hasil budidaya juga sering berubah ubah dan sangat terkait dengan nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, perlu adanya komunikasi yang lancar dan transparan antara pihak eksportir, pengepul, dan pembudidaya. Pihak pemerintah juga harus turut terlibat dalam hal menfasilitasi uoaya pengembangan budi daya biota laut, baik dari segi regulasi atau aturan maupun teknis budi daya di lapangan. Analisa usaha dalam bidang perikanan merupakan pemeriksaan keuangan untuk mengetahui keberhasilan yang telah tercapai selama usaha berlangsung. Dengan analisa usaha ini, pengusaha dapat membuat perhitungan dan menentukan tindskan untuk memperbaiki dan meningkatkan keuntungan dalam perusahaannya. Untuk memperoleh keuntungan yang nesar, dapat dilakukan dengan cara menekan biaya produksi.

Biaya Produksi

Biaya produksi merupakan modal yang harus dikeluarkan untuk membudidayakan biota laut, mulai dari persiapan sampai panen. Biaya pembuatan rakit/KJA, biaya untuk perawatan, sampai hasil panen tersebut terjual termasuk biaya produksi. Biaya produksi ini bisa dibedakan antara biaya tetap dan biaya variable. Biaya tetap merupakan biaya yang penggunaannya tidak habis dalam satu masa produksi, antara lain biaya pembuatan KJA, sarana transfortasi, generator set, dan biaya peralatan lainnya. Sementara itu, biaya variable merupakan biaya yang habis dalam satu kali produksi, seperti biaya benih, pakwn, pemberantasan hama, upah tenaga kerja, sumbangan, pajak usaha, iuran, biaya panen, dan biaya penjualan. Dalam perhitungan biaya produksi, baiay tetap diperhitungkan penyusutannya per satuan waktu, bulan, atau tahun. Ada beberapa cara untuk menghitung penyusustan, satu diantaranya yang paling mudah dipahami dalam metode garis lurus. Pada metode ini penyusutan dianggap sama besarnya untuk setiao waktu. Perhitungan penyusutan berdasarkan garis lurus, disajikan dalam rumus berikut.

P = (Hb - Hs)/ Lp

P = nilai penyusutan (rupiah)
Hb = nilai atau harga pembelian (rupiah)
Hs = nilai atau harga sisa (rupiah)
Lp = jangka waktu pemakaian (bulan atau tahun)

Contoh 1

Seorang pembudidaya kerapu bebek membuat satu unit keramba jaring apung yang meliputi rakit, rumah jaga, jangkar, jaring, perahu, dan lain-lain seharga Rp 200.000.000. KJA dapat digunakan selama 5 tahun. Setelah 5 tahun, jilai KJA ini dipeehitungkan tinggal sisa Rp 15.000.000. dengan demikian, nilai penyusutan KJA adalah:

P = (Rp 200.000.000 - Rp 15.000.000)/5
P = Rp 37.000.000/tahun

Apabila satu periode pemeliharaan kerapu bebek selama 1,5 tahun, nilai atau biaya penyusutan perperiode pemeliharaan ikan adalah 1,5 tahun x Rp 37.000.000/tahun = Rp 55.500.000. 

Nilai penyusutan peralatan juga dihitung sama walaupun harga/nilai sisa sama dengan nol. Adapun biaya produksi pada dasarnya adalah sebagai berikut.
  • Pembelian benih
  • Penyedian pakan
  • Tenaga kerja
  • Obat-obatan
  • Penyusutan KJA, atau jaring rentang (long line), atau rakit tancap untuk kekerangan
  • Penyusutan perlatan
  • Lain-lain (pajak usaha, iuran, sumbangan, pinjaman)
Biaya pembelian benih merupakan biaya terbesar. Selanjutnya, biaya pakan, biaya KJA, dan lain-lain.

Keuntungan

Dalam kegiatan budi daya laut, hasil yang bisa dijual hanya dalam bentuk biota laut berukuran pasar, tidak ada hasil sampingan. Apabila besar penerimaan dan biaya produksi telah diketahui, dapat dihitung besarnya keuntungan yang diperoleh dalam usaha budi daya laut ini. Besarnya keuntungan yang diperoleh dalam usaha pemeliharaan pembesaran biota laut selalu berubah dari tahun ke tahun sejalan dengan terjadinya perubahan harga sarana produksi maupun harga penjualan biota laut yang dihasilkan.

Agar budidaya dapat memperkirakannkeuntungan yangbakan diperoleh, dapat menghitung usahanya sebagai berikut.

1. Penerimaan
Penjualan biota laut = S2 x P2 = Rp A

2. Biaya produksi
a. Pembelian benih biota laut = S1 x P1 = Rp .....
b. Pakan
  • ikan runcah (Jp x Lp x Hir) = Rp .....
  • pelet komersial (Jp x Lp x Hpl) = Rp .....
c. Tenaga kerja (Jtk x U x Lp) = Rp .....
d. Penyusutan KJA = Rp .....
e. Penyusuran peralatan = Rp .....
f. Obat obatan (Ju x Ho) = Rp .....

Jumlah biaya produksi (a+b+c+d+e+f) = Rp B

3. Keuntungan = Rp A - Rp B = Rp .....

Keterangan
S1 = jumlah benih biota laut yang dibeli (ekor atau buah)
S2 = jumlah biota laut yang dijual (kg)
P1 = harga benih/ekor atau buah
P2 = harga penjualan biota laut/kg
Lp = lama pemeliharaan biota laut (bulan)
Jp = jumlah pemberian pakan (kg/hari)
Jr = jumlah pemberian ikan rucah (kg/hari)
Hir = harga ikan rucah (Rp/kg)
Hpl = harga pelet (Rp/kg)
Jkt = jumlah tenaga kerja (orang)
U = upah tenaga kerja (Rp/orang/bulan)
Ju = jumlah jenis obat obatan yang digunakan
Ho = harga obat obatan (Rp/jenis)

Biaya produksi budi daya kekerangan (tiram, mutiara kerang) dan rumput laut tidak dimasukkan biaya pakan. Hal ini disebabkan pakannya diperoleh dari alam.

Analisa Kelayakan Usaha Ikan Laut

Perhitungan biaya yang sering dilakukan , yaitu break event point (BEP), return of invesment (ROI), serta benefit cost ratio (B/C).

1. Break event poin (BEP)

Merupakan suatu nilai di mana hasil penjualan produk sama dengan biaya produksi atau pengeluaran sama dengan pendapatan. Dengan demikian, saat itu pembudidsya mengalami titik impas, yaitu tidak untung dan tidaknrugi. Perhitungan BEP ini digunakan untuk menentukan batas minimum volume penjualan agar usaha ini tidak rugi. Selain itu, BEP dapat dipakai untuk merencanakan tingkat keuntungan yang dikehendaki dan sebagai pedoman dalam mengendalikan operasi yang sedang berjalan. Untuk menentukan BEP ada beberapa hal yang harus diketahui, yaitu biaya atau modal (baik itu modal tetap atau variable), harga jual, dan tingkat produksi. Selanjutnya, BEP bisa dihitung dengan menggunkannrumus berikut.

BEP = biaya tetap / (1 - biaya variable/penjualan)

2. Return of invesment (ROI)

Return of invesment merupakan nilai keuntungan yang diperoleh pembudidaya dari setiap jumlah uang yang diinvestasikan dalam periode waktu tertentu. Tujuannya agar pembudidaya dapat mengukur sampai seberapa besar kemampuannya dalam mengembalikan modal yang telah ditanamnya. Dengan demikian, analisa ROI dapat digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal dalam pembudidayaan tersebut.

Umumnya nilai ROI ditentukan oleh:
  • kemampuan pembudidaya dalam menghasilkan laba,
  • kemampuan pembudidaya dalam mengambalikan modal, dan 
  • penggunaan modal dari luar untuk memperbesar perusahaan.
Besarnya ROI dapat diperoleh dengan rumus berikut.

ROI = laba usaha/modal usaha

3. Benefit cost ratio (B/C)

Perhitungan ini lebih ditekankan pada kriteria investasi yang pengukurannya diarahkan pada usaha untuk memperbandingkan, mengukur, serta menghitung tingkatbkeuntungan usaha perikanan. Dengan B/C ini, bisa dilihat kelayakan suatu usaha. Fungsi B/C ini sebagai pedoman untuk mengetahui seberapa besar suatu jenis ikan harus diproduksi pada musim berikutnya. Adapun rumusnya sebagi berikut.

B/C = hasil penjualan/biaya produksi

Jika nilainya 1, berarti usaha tersebut belum mendapatkan keuntungan sehingga perlu pembenahan. Semakin kexil nilai ratio ini, semakin besar kemungkinan pembudidaya menderita kerugian.

Begitulah pembahasan dari Analisa Bisnis Ikan Laut yang bisa Anda pelajari untuk memulai usaha budidaya ikan laut supaya berhasil dan menghindari kerugian. Semoga dengan pembahasan ini bisa menambah kesiapan dan kematangan dalam berwirausaha, salam sukses untuk Anda. 

Komentar

Baca Artikel Lainnya

Contoh Pembukuan Warung Sembako Dan Cara Membuatnya

18 Game Android yang Menghasilkan Uang Asli Langsung ke Rekening Tanpa Modal

Apa yang dimaksud dengan 5A dalam Skema Usaha Jasa Pariwisata?

20 Peluang Usaha Modal 50 Juta Rupiah Beserta Rinciannya

Pertanyaan Tentang Segmentasi Pasar yang Belum Anda Tahu

Warung Sembako Modal 5 Juta, Begini Rincian Modal Usaha dan Cara Memulainya

3 Keuntungan dan Kelemahan dalam Memilih Tenaga Kerja yang Tidak Terlatih

6 Jenis Usaha Di Daerah Pegunungan Yang Memiliki Untung Besar

9 Contoh Copywriting Produk Kecantikan yang Menarik Perhatian dan Bisa Meyakinkan Calon Pembeli

Toko Kelontong Modal 20 Juta, Begini Rincian Modal Usaha dan Cara Memulainya